Tingkatan Pengkajian Diri (javanese version)
June 2, 2010 Leave a comment
berawal dari iseng – iseng saya untuk membuka lemari untuk melihat -lihat kembali catatan zaman sekolah, ternyata menemukan catatan ketika masih di kelas 6 KMI dulu dari pada bingung belum dapat ide untuk update postingan blog lebih baik itu saja ditulis
.
budaya jawa memang kental dengan nilai – nilai filosofis yang tinggi, dalam hal ini saya ingin berbagi tentang tingkatan kualitas pengkajian yang ada dalam masyarakat jawa, dan berikut tingkatan – tingkatan itu :
1. Nanding Sarira
Adalah tingkatan paling rendah dalam kualitas pengkajian diri karena dalam hal ini manusia sangat senang membandingkan dirinya dengan orang lain dan ia merasa lebih baik.
2. Ngukur Sarira
Lebih baik dibanding dengan yang pertama karena pada tingkatan ini kita manusia menjadikan orang lain sebagai tolok ukur bagi dirinya sehingga bisa memperbaiki kekurangan yang dia rasakan sebagai manusia.
3. Tepa Sarira
Dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan tenggang rasa, dalam bahasa Arab disebut tasamuh,merupakan fase atau tingkatan ketiga pengkajian diri yang mana dalam fase ini manusia mau dan mampu untuk ikut merasakan perasaan orang lain.
4. Mawas Diri
Lebih dikenal dengan bahasa Introspeksi atau dalam bahasa Arab disebut dengan muhasabatun nafsi, adalah tingkatan di mana seseorang selalu berusaha untuk memahami dirinya sedalam – dalamnya untuk mendapati segala kekurangannya dan juga segala potensi yang ada pada dirinya, bukan hanya sebatas membandingkan dan menjadikan orang lain sebagai tolok ukur buat dirinya.
5. Mulat Sariro
Mulat Sariro Angroso Wani, begitulah tepatnya ungkapan yang ada dalam bahasa Jawa, yang artinya adalah berani untuk melihat diri sendiri,tanpa sibuk melihat kesalahan yang diperbuat orang lain. mulat sariro merupakan kualitas kajian diri tertinggi dalam masyarakat jawa yang dalam fase ini manusia telah mampu menemukan identitas yang terdalam sebagai pribadi.
Beruntunglah orang-orang yang selalu melihat diri sendiri (introspeksi) terhadap apa yang telah ia perbuat. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari-cari kesalahan diri sendiri, dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya di waktu yang akan datang. Tiap malam sebelum tidur memikirkan apakah di siang harinya berbuat kesalahan kepada saudaranya yang lain, apa yang telah diperbuat sepanjang hari itu. Sungguh sangat jarang yang demikian. Muhasabah terhadap diri sendiri…
Memang, kita lebih mudah untuk menilai orang lain tetapi begitu sulit untuk melihat diri sendiri (introspeksi). Saya sangat menyadari hal itu, begitu sulitnya untuk melihat kesalahan yang ada pada diri saya. Makanya saya mencoba membagi kegundahan ini pada teman-teman semua. Sembari berharap lambat laun kita bisa menjadi pribadi yang bisa mulat sarira angrasa wani, pribadi yang berani melihat dirinya sendiri dan tidak menyibukkan diri untuk memikirkan kesalahan-kesalahan apa yang telah diperbuat orang lain. terima kasih………
Yang pada comment